HIMAHI UNIFA

HIMAHI UNIFA

Saturday, 19 January 2019

HI News : Unifikasi Korea Utara dan Korea Selatan

UNIFIKASI KOREA UTARA DAN KOREA SELATAN

Perang Korea yang dimulai pada 25 Juni 1950-27 Juli 1953, ketika konflik antara rezim militer Korea Utara dengan Korea Selatan mencuat, membuat semenanjung Korea menjadi medan pertempuran hingga tiga tahun lamanya. Perseteruan ini juga dimotori oleh dua kekuatan dunia yang pada saat itu selalu berada dibelakang Negara-negara yang sedang bermasalah, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang tentu saja bertolak belakang secara ideology. Upaya-upaya dalam meredam permusuhan Korea selatan dan utara ini selalu tak pernah berhasil untuk diterapkan. Sebelumnya sudah sejak lama kedua negara serumpun disana terlibat konflik terbuka. Kedua negara tak hanya dipisahkan tembok tetapi juga tirai tebal ideology. 

Perang Korea disebabkan oleh adanya persaingan ideology antara AS dan Uni Soviet, pembagian wilayah menjadi dua bagian, dan tidak adanya kesepakatan antara AS dan Uni soviet tentang pembentukan Korea utara. Perang Korea berlangsung antara tanggal 25 Juni 1950-27 Juli 1953. Perang tersebut bukan sekedar perang antara Korea utara dan selatan, dibalik Korea utara ada Uni Soviet dan RRC, sedangkan dibalik Korea selatan ada AS dan sekutu-sekutu PBB-nya. Korea utara sempat menguasai Seoul dan wilayah-wilayah Korea selatan, namun Korea selatan sempat bangkit dan unggul dan pada akhirnya Korea utara berhasil memukul mundur pasukan PBB ke selatan. Namun pada perang ini tidak ada pihak yang menang atau kalah, kedua negara sama-sama mengalami kerugian dan menewaskan banyak korban. 

Pada hari Jumat, 27 April 2018, Presiden Korea Selatan, Moon Jae In dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un melakukan pertemuan di wilayah Panmunjom dan merupakan pertemuan pertama kalinya dalam sejarah, yang juga merupakan pertama kalinya seorang pemimpin Korea Utara melewati batas wilayah dan memasuki area Korea Selatan selama 65 tahun setelah gencatan senjata pada tahun 1953. Pertemuan tersebut tentu saja membawa harapan yang besar bagi berdamainya Korea Selatan dan Korea Utara, mengingat perang dingin yang sudah lama dialami kedua negara tersebut. Konferensi tingkat tinggi (KKT) yang dilaksanakan di Panmunjom ini merupakan pertemuan ketiga setelah KTT dilaksanakan pada 2000 dan 2007, dan untuk kali pertama digelar di wilayah Korsel. Setelah berdiskusi sejak pagi, Presiden Moon Jae In dan Kim Jong Un bersama-sama mendatangani sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa keduanya setuju untuk mengakhiri perang dingin antar-Korea akhir tahun ini.
 Pada tanggal 27 April 2018, Presiden Moon Jae In dari Republik Korea dan Ketua Kim Jong Un dari Komisi Urusan Negara Republik Demokratik Rakyat Korea mengadakan pertemuan puncak antar-Korea di Gedung Perdamaian di Panmunjom dengan keinginan untuk perdamaian , kemakmuran, dan reunifikasi semenanjung Korea selama masa perubahan historis ini. Kedua delegasi telah menjelaskan kepada dunia dan 80 juta orang bahwa era baru perdamaian telah dimulai dan tidak akan ada lagi perang di semenanjung Korea. Kedua delegasi ini dengan ini membuat pernyataan berikut, dengan tekad untuk mengakhiri pembagian dan persaingan jangka panjang (Korea Utara dan Selatan) serta untuk maju ke era baru rekonsiliasi dan perdamaian di antara rakyat kita dan reformasi dan pengembangan yang tegas, hubungan antara Korea.

Hal ini menjadi salah satu fokus dalam dunia internasional karena dengan berdamainya kedua negara tersebut maka dapat mengurangi ancaman nuklir dari Korea Utara yang dapat mengancam kestabilan kawasan seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan bahkan dunia. Namun kemungkinan unifikasi korea selatan dan utara seperti masih jauh diambang mata mengingat ada banyak sekali perbedaan yang mencolok dari kedua negara yang dahulu merupakan satu kesatuan akan tetapi pecah menjadi korea selaran dan korea utara pada tahun 1953.

No comments:

Post a Comment